Khutbah Jum'at: Merapatkan Shaf: Haruskah Kaki Nempel Kaki?

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِالِلّٰهِ مِن شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا¸ مَنْ يَهْدِه اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ¸ أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ¸ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ). صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Pesan Takwa…..

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita sejenak merenung tentang salah satu perintah Rasulullah ﷺ yang sering kali kita anggap sepele, namun sesungguhnya memiliki hikmah yang sangat mendalam dan agung. Perintah itu adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam salat berjamaah.

Hadirin sekalian,

Meluruskan shaf bukanlah sekadar anjuran untuk kerapian. Ia adalah sebuah syariat, bagian tak terpisahkan dari kesempurnaan salat kita. Rasulullah ﷺ sangat menekankan hal ini. Bahkan, beliau tidak hanya memerintahkan, tetapi juga memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang mengabaikannya.

Mari kita simak sabda Nabi ﷺ, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu:

أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلاَثًا وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ‏"‏‏.‏ قَالَ النُّعْمَانُ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ‏.‏

"Rasulullah ﷺ menghadap kepada kami dengan wajahnya, lalu bersabda, 'Luruskan shaf kalian (sebanyak tiga kali).' Demi Allah, sungguh kalian akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan memperselisihkan hati-hati kalian.' Nu'man berkata, 'Maka aku melihat seseorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah betapa kuatnya peringatan ini. Rasulullah ﷺ bersumpah atas nama Allah bahwa jika kita tidak meluruskan shaf, maka Allah akan memperselisihkan hati-hati kita. Ini bukan ancaman fisik, melainkan ancaman spiritual yang lebih berbahaya. Shaf yang tidak lurus adalah simbol dari hati yang tidak bersatu.

Mengapa bisa demikian? Karena di dalam shaf salat, Allah mengajarkan kita tentang persatuan dan kesetaraan. Ketika kita berdiri dalam shaf yang rapat dan lurus, tidak ada lagi perbedaan. Tidak peduli apakah kita seorang pejabat tinggi atau rakyat jelata, seorang pedagang kaya atau pekerja harian, semua berdiri dalam satu barisan yang sama. Bahu kita bersentuhan dengan bahu saudara di samping kita, kaki kita menyentuh kakinya. Di sini, di hadapan Allah, kita semua sama.

Shaf yang rapat juga mengajarkan kita tentang kedisiplinan dan kekompakan. Shaf yang renggang, di mana ada celah-celah di antaranya, apalagi masih memungkinkan untuk diisi oleh jamaah yang lain, bukan hanya mengurangi keindahan barisan, tetapi juga membuka ruang bagi setan. Nabi ﷺ bersabda, "Luruskan shaf kalian, dan ratakanlah. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku melihat setan masuk di antara celah shaf, seolah-olah dia adalah kambing hitam." (HR. Abu Dawud).

Setan selalu mencari celah untuk merusak ibadah kita. Jika ia bisa masuk melalui celah di antara dua orang yang sedang salat, bagaimana dengan celah-celah perpecahan yang sering kita ciptakan di tengah masyarakat? Shaf yang rapat adalah simbol bahwa kita bersatu, kita saling mengisi, dan tidak memberikan sedikit pun ruang bagi perpecahan. Kita adalah satu tubuh yang menyatu, saling menguatkan satu sama lain.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kemudian bagaimanakah cara kita meluruskan dan merapatkan shaf?

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat :

1. Pendapat yang Menganjurkan "Bahu Ketemu Bahu, mata kaki Ketemu mata kaki"

Pendapat ini didasarkan pada hadis-hadis yang menyebutkan praktik para sahabat Nabi ﷺ. Hadis dari Anas bin Malik ra. dan Nu'man bin Basyir ra. menunjukkan bahwa para sahabat berusaha keras merapatkan shaf hingga bahu mereka bersentuhan dengan bahu teman di sampingnya, dan mata kaki mereka bersentuhan dengan mata kaki teman di sampingnya.

Argumentasi:

o  Praktik Sahabat: Hadis-hadis tersebut, yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab sahih seperti Shahih Bukhari dan Muslim, secara jelas menggambarkan tindakan para sahabat yang menempelkan bagian tubuh mereka.

o    Tujuan Menutup Celah: Tujuan utama dari teknis ini adalah untuk memastikan tidak ada celah sedikit pun di antara para makmum. Hadis lain menyebutkan bahwa setan dapat masuk melalui celah shaf yang renggang.

o    Kesempurnaan Ibadah: Pendapat ini memandang bahwa praktik menempelkan bahu dan tumit adalah cara paling sempurna untuk memenuhi perintah Nabi ﷺ.

Pandangan Ulama:

o  Imam Bukhari mencantumkan hadis Nu'man bin Basyir dalam bab khusus berjudul "Bab Menempelkan Bahu dengan Bahu dan Kaki dengan Kaki dalam Shaf." Ini menunjukkan bahwa beliau memandang praktik tersebut sebagai inti dari merapatkan shaf.

o   Syekh Nashiruddin al-Albani termasuk ulama kontemporer yang sangat menekankan pentingnya praktik "bahu ketemu bahu, matakaki ketemu mata kaki" berdasarkan pemahamannya terhadap hadis-hadis tersebut.

2. Pendapat yang Tidak Mengharuskan "Bahu Ketemu Bahu, mata kaki Ketemu mata kaki"

Sebagian ulama berpendapat bahwa tujuan utama dari perintah merapatkan shaf adalah meluruskan barisan dan menutup celah, bukan menempelkan tubuh secara kaku dan berlebihan. Mereka menafsirkan praktik para sahabat sebagai upaya sungguh-sungguh untuk meluruskan shaf, bukan sebagai sebuah keharusan untuk saling menempelkan sebagian anggota badan secara terus-menerus selama salat.

Argumentasi :

o  Makna Hadis: Mereka menafsirkan kata "menempelkan" dalam hadis sebagai tanda kesungguhan dan ketertiban para sahabat dalam meluruskan shaf, bukan sebagai rukun atau kewajiban yang harus dipertahankan sepanjang salat.

o   Mengutamakan Khusyuk: Menempelkan kaki secara berlebihan atau memaksakan diri sepanjang salat dikhawatirkan dapat mengganggu kekhusyukan, terutama jika posisi kaki dan anggota tubuh lainnya yang menempel dengan teman di sampingnya menjadi tidak nyaman sehingga bisa mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan. Mereka berpendapat bahwa salat yang khusyuk lebih utama daripada berlebihan dalam merapatkan shaf tapi membuat tidak nyaman.

o   Pendapat Ulama Fikih Klasik: Mayoritas ulama mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) tidak menyebutkan secara spesifik keharusan menempelkan tumit atau bahu secara terus-menerus sebagai syarat sahnya shaf. Mereka lebih menekankan pada kesamaan posisi dan tidak adanya celah yang lebar.

Pandangan Ulama:

o Ulama dari mazhab Syafi'i dan sebagian lainnya lebih menekankan pada kerapian dan kelurusan shaf. Intinya, shaf harus lurus, tidak ada makmum yang lebih maju atau mundur dari yang lain, dan tidak ada celah yang cukup lebar untuk dimasuki setan.

o   Ibnu Hajar al-Asqalani, salah satu ulama besar yang mensyarah (menjelaskan) Shahih Bukhari, menafsirkan praktik sahabat tersebut sebagai bentuk "mubalaghah" (penekanan atau berlebihan) dalam hal meluruskan dan merapatkan shaf, bukan sebagai keharusan teknis yang baku.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Perbedaan pendapat ini bukanlah perselisihan yang mendasar, melainkan perbedaan dalam menafsirkan bagaimana cara terbaik untuk melaksanakan perintah Nabi ﷺ.

o  Pendapat pertama (menganjurkan "bahu ketemu bahu, tumit  ketemu tumit") melihat praktik sahabat sebagai tata cara yang ideal untuk mencapai shaf yang sempurna.

o  Pendapat kedua (tidak mengharuskan menempelkan tumit dan bahu secara terus-menerus) melihat bahwa tujuan utama adalah kerapian shaf dan tidak ada celah, dan hal tersebut bisa dicapai tanpa harus memaksakan posisi yang tidak nyaman.

Mana yang lebih benar? Kedua pandangan ini sama-sama memiliki landasan hadis dan argumentasi yang kuat. Namun, yang paling penting adalah tujuan utamanya, yaitu meluruskan shaf, merapatkannya, dan tidak membiarkan celah bagi setan, serta menjaga ukhuwah islamiyah.

Maka, setiap kita berjamaah hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk merapatkan shaf sesuai kemampuannya. Jika ia merasa nyaman dengan menempelkan bahu dan mata kaki, maka itu adalah baik. Jika ia merasa lebih khusyuk dengan posisi yang tidak terlalu menempel, selama shafnya tetap rapat dan lurus, maka hal itu juga tidak mengapa.

Yang tidak baik dan bisa mengundang kehadiran syetan adalah mereka yang membiarkan shof yang renggang, tidak rapat dan tidak lurus. 

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali. Shaf yang lurus dan rapat di dalam salat adalah cerminan dari barisan umat yang solid dan kokoh di luar salat. Jika di dalam masjid kita bisa berdiri tegak, sejajar, dan tanpa celah, maka di luar masjid pun kita harus mampu menjadi satu kesatuan yang tidak mudah dipecah belah oleh fitnah dan perselisihan.

Marilah kita jaga persatuan, kita tutup rapat setiap celah yang bisa merusak ukhuwah kita. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk golongan hamba-Nya yang selalu menjaga persatuan dan Ukhuwwah Islamiyah.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، ونفعني وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آلايَات وَالذِكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم 

 

Khutbah Kedua

  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى    

فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر    إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيَآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّن وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

 اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر